Ketum PBNU Gus Yahya Ajak Jamaah Haul KH. Abdul Hamid Perkuat Do'a untuk Keselamatan Bangsa

  • Sep 02, 2025
  • AYIK RIFA'I

Digital Mandiri Petahunan – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), K.H. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, memberikan sambutan secara virtual (hybrid) dalam acara Haul ke-44 Al-Maghfurlah K.H. Abdul Hamid bin Abdullah Umar di Pondok Pesantren Salafiyah, Kota Pasuruan, Selasa (2/9/2025). Dalam tausiyahnya, Gus Yahya menegaskan bahwa bangsa Indonesia tengah diuji dengan berbagai dinamika sosial dan politik, sehingga umat Islam perlu memperkuat doa dan ikhtiar spiritual untuk keselamatan negara.

“Kita semua mendengar bagaimana keadaan di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang kita cintai hari ini. Rupanya Allah SWT menunjukkan maqam dari Kiai Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di berbagai daerah. Hal-hal yang mengkhawatirkan seperti kerusuhan muncul, namun Pasuruan aman tenteram tanpa terjadi apa-apa,” ujar Gus Yahya dalam sambutannya yang disiarkan secara langsung di hadapan ribuan jamaah.

Lebih lanjut, Gus Yahya mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini mengundang sejumlah tokoh agama ke Istana Negara untuk mendengarkan arahan Presiden terkait kondisi politik nasional. Pertemuan tersebut menjadi ajang diskusi mendalam terkait keprihatinan bersama sekaligus membahas langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas bangsa.

“Saya bersama para pemimpin ormas Islam dan tokoh agama bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto. Kami berdialog dari hati ke hati tentang keprihatinan-keprihatinan bersama, sekaligus membicarakan cita-cita kemaslahatan dan kemuliaan masa depan bangsa yang kita cintai ini,” jelas Gus Yahya.

Ia juga mengajak para hadirin untuk terus memperkuat do'a, riyadhah, dan istighatsah sebagai upaya spiritual menjaga bangsa. “Mohon dengan semua yang kita miliki, semua yang kita pelajari mengenai riyadhah, istighatsah, dan inayah. Mari kita bersama-sama memohon pertolongan Allah SWT. Semoga bangsa dan negara yang kita cintai ini segera sampai kepada jalan yang sungguh-sungguh menjadi jembatan emas menuju masa depan lebih gemilang,” tegasnya.

Sementara itu, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah, K.H. Idris Hamid, dalam tausiyahnya mengingatkan bahwa kemerdekaan dan kejayaan Indonesia dibangun di atas perjuangan panjang para ulama dan syuhada. Ia menekankan pentingnya keterlibatan aktif umat Islam dalam menjaga persatuan bangsa.

“Ayo semuanya kita urun-urun (aktif ikut) berjuang untuk menyelamatkan Indonesia saat ini. Jangan sampai Indonesia ini hancur! Indonesia dibangun oleh para ulama', syuhada', dan Wali Songo,” kata Kiai Idris di hadapan jamaah yang memenuhi halaman pesantren.

Dalam ceramahnya, Kiai Idris juga mengangkat kisah sejarah pemerintahan Abbasiyyah saat Khalifah Al-Mutawakkil hendak menaikkan pajak rakyat di tengah krisis ekonomi. Imam Ahmad bin Hanbal kala itu memberikan solusi agar kebijakan tersebut tidak membebani umat. “Ini teladan bagi kita agar selalu mencari solusi yang berpihak kepada rakyat,” ujarnya.

Acara haul dimulai sejak pagi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, manaqib Kiai Abdul Hamid, serta rangkaian do'a bersama. Ribuan jamaah dari berbagai kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga luar pulau terlihat memadati lokasi acara, sebagian besar mengenakan pakaian putih dan membawa kitab do'a. Jalan-jalan sekitar pesantren juga dipenuhi para peziarah yang datang untuk berziarah ke makam Kiai Abdul Hamid.

Suasana khidmat dan tertib tampak mewarnai jalannya acara meskipun jumlah jamaah membludak. Pihak panitia menyediakan tenda besar, video trone untuk menyaksikan sambutan virtual Gus Yahya, serta fasilitas konsumsi bagi para tamu. Ribuan santri Pondok Pesantren Salafiyah ikut mengatur jalannya acara bersama aparat keamanan setempat.

Haul K.H. Abdul Hamid yang dikenal sebagai wali kharismatik ini tidak hanya menjadi momentum mengenang jasa beliau dalam dakwah dan penyebaran Islam di Pasuruan, tetapi juga menjadi ajang memperkuat silaturahmi umat. Keberkahan dan ketenangan Kota Pasuruan yang dikenal sebagai kota santri diyakini tidak lepas dari doa dan maqam beliau.

Dengan pesan moral dari Gus Yahya dan Kiai Idris, haul tahun ini menjadi pengingat pentingnya kekuatan spiritual umat dalam menjaga Indonesia agar tetap damai dan bermartabat di tengah tantangan zaman. (Aya)